Pulang

Sudah sekitar 2 minggu aku di Rangkas setelah hampir 4 bulan tidak kembali ke kota ini. aku pikir di liburan panjang ini, aku dapat bertemu denganmu disini, tapi sayangnya aku harus menelan mentah-mentah harapanku itu, liburanku berakhir hingga akhir januari sedangkan kamu baru libur di awal februari. takdir kita benar-benar sudah diatur dengan sangat baik oleh Allah.

ini malam minggu, aku baru pulang dari rumah mbah untuk sekedar menengok, pukul 21.30 aku pulang sendiri mengendarai motor. aku pikir jalanan sudah cukup sepi, tapi aku lupa, sudah menjadi tradisi dimalam minggu bahwa semakin malam justru semakin ramai kota ini. dan sialnya aku harus mampir sebentar untuk membeli kuota hp ku. ughh, aku benci keramaian. setelah setelah selesai membeli yang aku cari, aku berjalan menuju motor, dan tanpa sengaja aku berpapasan dengan seorang laki-laki yang tinggi nya persis setinggi kamu, aku tak melihat dengan jelas karena aku berjalan cukup menunduk namun entah aku merasakan telah berpapasan dengan kamu (atau dengan orang yang tinggi dan postur badannya sangat mirip dengan kamu). aku jelas sadar itu bukanlah kamu, tapi hatiku tetap merasakan sebuah sengatan dan sebuah nyeri disana ketika tanpa sadar aku reflek menengok dan menyadarkan diriku bahwa itu bukanlah kamu.

ah, ini yang aku sukai sekaligus benci ketika bepergian mengendarai motor dimalam hari. entah mengapa angin malam selalu membawaku pada perasaan sendu, dan kesialan apalagi ini, angin dimalam ini sangatlah terasa dingin menusuk kau tau. setelah kejadian barusan, bukannya jera, aku malah memutuskan untuk mengitari kota ini lebih dalam, menyusuri beberapa tempat kenangan kita. hingga aku beberapa kali berhalusinasi melihat beberapa pengendara motor yang mirip kamu. oh iya beberapa hari yang lalu juga ada orang yang bertamu mengucap salam pada tetangga ku dan suaranya persis seperti kamu, aku sampai mematikan sejenak musik yang aku setel dan diam mendengarkan orang yang bertamu tersebut. ah, apa yang salah dengan otakku ini?! mengapa segala hal yang ada selalu aku kaitkan denganmu…

ya, kota kecil ini menyimpan sangat banyak kenangan kita. walau banyak kenangan yang mungkin hanya aku anggap itu sebagai sebuah moment, ya karena kenyataannya kita memang tak punya banyak kenangan berdua. banyaknya kenangan yang memenuhi kota ini justru membuatku cukup sesak, diliburanku yang berharga ini aku malah menginginkan untuk segera kembali saja ke Bandung, setidaknya disana aku tak merasakan sesak karena mengingat kenangan yang bagai berserakan di jalanan kota ini. dan juga kau tau? setiap aku kembali ke Rangkas, aku selalu tak sengaja bertemu dan bercengkrama dengan keluargamu, entah itu Ummi, Teteh, atau Adikmu itu. tak ada yang salah memang, hanya hatiku saja yang salah, mengaitkan segala hal dengan kamu.

selama disini, aku tidak merasakan sedang benar-benar pulang, aku merasa ada yang kurang disini. karena dalam ingatanku; kamu dan hatimu lah tempat dimana aku pulang.

Advertisements

Sebelum Menjadi Asing

Sebelum menjadi asing, izinkan aku menyelami lautanmu lebih jauh,
menemukan dirimu seutuhnya di dasar yang paling dalam.

Sebelum menjadi asing, izinkan aku menanam bibit kebaikan,
agar kelak kau menjadi layaknya kertas putih
yang suci tanpa coretan tinta hitam.

Sebelum menjadi asing, izinkan aku menculikmu diam-diam
membawamu ke antah berantah,
bercanda tertawa hingga senja mulai menyoroti pelupuk mata.

Lalu,

Setelah menjadi asing, kau kuizinkan untuk berjalan sesuka hatimu,
tanpa perlu memperhatikan sosok diriku.

Setelah menjadi asing, kau kuizinkan untuk menutup rapat pintu hatimu,
tatkala aku datang mengetuknya pelan.

Setelah menjadi asing, kau kuizinkan untuk menghapus segala tentangku
yang kadangkala menghantuimu dalam ingatan.

Tapi jauh sebelum itu.

Sebelum-menjadi-asing.
Izinkan aku mencintaimu.

Dari Ia Tentang Perantauan

Kala rindu merasuki jiwa
Kala gundah tutupi langkah mata

Tak ada yang bisa menahan sang pujangga berkata kata
Mungkin hari ini adalah hari kemarin yang ingin selalu ia jaga
Namun manusia tak bisa melawan takdir sang pencipta

Kini yang aku bisa hanya mengemas kenangan, memelihara perasaan

Kita tak pernah tau kapan akan dipertemukan dan dipisahkan

Namun aku percaya akan tuhan yang Maha Rahman

Jika perantauan ini baik untuk maka kau akan dapati aku baik untuk begitupun sebaliknya

Kata yang terbaik untuk diucapkan bagi seorang perantau adalah kata maaf dan doakan agar perjalan menjadi sangat ringan

Rindu boleh… Temani perantauan ini selamanya.

14-Agustus-2017 / 05.51

Menjadi Buih

Ini malam kesekian aku dirundung sendu. Entah mengapa. Rasanya tiap memikirkan mu… itu menyakitkan. Gimana ya, kamu.. mulai menjauh ya? Bosan ya denganku? Ah, tak perlu dijawab, aku tak siap mendengar jawaban mu.

Ketika pesan aku cuma kamu read doang, sedangkan kamu asik chat becanda sama (banyak) yang lain disana, aku terus menunggu apa hanya pesanku saja yang tak kau gubris sama sekali? Disaat aku dihujam rindu yang tak terkira, sesaat aku berpikir sepertinya rinduku bertepuk sebelah tangan.. Disaat aku dengan penuh perjuangan ini itu hanya untukmu, kenapa ya respon yang aku dapat dari mu singkat sekali, rasanya seperti ah perasaan ku mulai tak dihargai..

Heyy, apa kabar? Kabar mu lah yang selalu aku tunggu setiap waktunya. Disisi lain, aku bertanya tanya, kabar siapa yang kau tunggu hari ini?

Heyy, jangan pergi..

Ruang Rindu

Ada suatu malam ketika kau tak datang, sepertinya kau masih sibuk dengan banyak hal. Ini sudah lewat jam malam, tapi aku masih terjaga.

Lalu tanpa sengaja, aku menemukan recent call kita di Line, rata rata waktu panggilan nya berdurasi lebih dari 40 menit, bahkan ada yang sampai 2 jam lebih. Dan semuanya terjalin ditengah malam.

Aku mulai termenung, menatap layar handphone cukup lama, hanya melihat recent call itu. Mencoba menggali setiap kenangan, mengingat hal apa saja kah yang saat itu kita bincangkan. Sungguh, aku benar benar mencoba mengingat nya. Sepertinya itu saat saat menyenangkan.

Mengingat masa SMA kita tinggal beberapa hari lagi, yang juga akan jadi perpisahan pertama kita, ruang lingkup kebersamaan kita akan hilang, satu demi satu. Namun sayangnya, hari hari terakhir kita tak cukup baik. Seperti malam ini.

Lalu perlahan tanpa kusadari, rasa rindu mulai menebal, kembali menumpuk. Jika rindu itu bagai lembaran kertas, percaya tidak? tumpukan nya sekarang hampir menyentuh langit.

Ephemera

Jatuh. Terbangun. Jatuh. Patah. Jatuh lagi. Bangkit. Patah lagi. Menjadi perca. Lalu remuk. Bangkit. Jatuh lagi.
Proses yang malam ini ingin kuberhentikan dengan titik keberdirianku melawan segala rindu dan rasa takut kehilangan, untuk kembali pada titah-Nya.
Semoga tak ada lagi jatuh tanpa tangan yang siap memberdirikan, mengajak bersisihan menuju cinta-Nya. Aku takut. Takut sekali. Pada-Nya.

Maaf atas segala rasa yang pernah begitu berlebihan, atas bertumpuk-tumpuk rindu yang pernah dikirim angin, atas segala sakit yang sempat kita rasa, atas air mata tak tertahan, atas segala huruf yang pernah terangkai begitu saja, atas jatuh dan bangkit yang berseling membersamaiku, atas amarah dan benci yang aku tak berhak melakukannya.
Semoga Sang Maghfiru memberikan ampunan-Nya padaku. Juga padamu.
Bukankah kita sudah sama-sama percaya bahwa ini semua hanya ephemera?

Karena jatuh cinta dan patah hati hanya sementara.

-Ahimsa Azaleav.

         Ya, malam ini kita kembali tersadar, menyadarkan diri akan posisi kita saat ini. Malam ini kita kembali melawan ego dalam diri, mencoba memilah kembali mana yang benar dan yang salah. Malam ini kita kembali saling mengingatkan akan apa yang tak seharusnya kita lakukan dan apa yang seharusnya kita lakukan.

Perasaan khawatirmu jika kelak kita tak berjodoh, sungguh, sangat aku rasakan pula. dan kita sama sama faham dan takut, jika jalan seperti ini yang terus kita lalui, nanti malah mendatangkan murka Sang Pemilik hati, dan kita takut kelak Ia malah tak ridho karenanya. Maka akhirnya malam ini, kita memutuskan sesuatu yang seharusnya kita putuskan sejak awal.

Gambaran perasaanku tak jauh dari beberapa tulisanku sebelumnya, karena sekarang sepertinya aku mulai kehabisan kata kata.. hanya air mata yang selalu jatuh tak tersadar setiap aku mengingatmu.

Tak mudah menghapus 25,500++ percakapan yang terhitung dalam percakapan facebook kita, belum jika kau mau menghitung percakapan lainnya, ditambah percakapan-percakapan yang kita cakapkan langsung 4 mata, ah, percakapan itu terekam baik dalam memoriku.

Abdirrohman.. harapan dan doa ku satu. Agar semua yang kita ikhlaskan saat ini, tak sepenuhnya kita lepas, agar kita tetap pada tujuan kita, untuk berjuang agar dipertemukan kembali kelak pada masa kita sudah berilmu dan siap untuk mengarungi derasnya ombak bersama.

Selamat tinggal yang sesungguhnya kau dimata ku. tapi maaf, tak mungkin aku mengucapkan selamat tinggal kau dihati ku. karena hati ini selalu punya tempat terindah untuk kau menetap didalamnya, maka jangan biarkan tempat itu kosong. aku janji akan menjagamu dalam hatiku, aku tak ingin menerima siapa-siapa lagi selain dirimu didalam hatiku, maka tolong, jagalah juga separuh hatiku yang aku titipkan bersamamu.

Besar harapku untuk membersamaimu kelak. maka harapanku ini takkan aku biarkan menjadi harap saja. ini butuh perjuangan. dan dengan niat dan tekad yang kuat, aku ingin memperjuangkanmu.

Jangan hilangkan rasa percayamu padaku, tenang, aku penjaga cinta yang baik. dan jangan pula hilangkan rasa percaya kita pada sang Maghfiru akan janjinya untuk mempertemukan kembali dua hati yang saling mencintai karenaNya.

Pulang lah segera diwaktu dimana kau harus pulang kesini.. hati ini akan setia menunggu mu setiap waktu.

Abdirrohman Al-Madani, hanya Allah yang tahu, betapa berharganya dirimu untukku.