Angan

Ada yang tak ingin
kau lepas
Namun memilikinya pun
kau tidak.

Ada yang ingin
kau genggam tangannya
Namun berdampingan pun
kau belum.

Adakah yang lebih menyayat,
selain mendamba yang bukan siapa?

Advertisements

Dari Ia yang Penuh Kehangatan

Kupinang engkau dengan Al-Qur’an
Kokoh suci ikatan cinta
Kutambatkan penuh marhamah
Arungi bersama samudra dunia

Jika terhempas di lautan duka
Tegar dan sabarlah tawakal pada-Nya
Jika berlayar di sukacita
Ingatlah tuk selalu syukur padaNya

Hadapi gelombang ujian
Sabarlah tegar tawakal
Arungi samudra kehidupan
Ingatlah syukur pada-Nya

Diantara embun pagi
Dari hangatnya sang mentari,

7 Mei 2016

Melangitkan Doa

Aku mencintaimu..
Aku menyayangimu..
Aku mendoakanmu..
Aku mengagumimu..
Aku memperhatikanmu..
Aku menerimamu..
Aku mendukungmu.

Semua yang terbaik kuberikan untuk kamu. ada yang ingin kamu dengar lagi selain itu? jika ada, mungkin yang ingin kamu dengar adalah aku mau menjadi teman hidupmu.

kamu memiliki ribuan kekurangan, aku tahu itu. tapi tahukah jika kamu memiliki jutaan kelebihan yang selalu kubanggakan? kepada dunia seluruh kehebatanmu kuperkenalkan. dan satu hal yang paling membuatku bangga memilikimu. meski kamu memiliki jutaan karya yang dibanggakan di depan jutaan orang, kamu tetap setia pada satu perempuan – aku.

kamu tahu aku tak sehebat perempuan-perempuan hebat di luar sana. aku tidak cantik, aku belum memiliki banyak bekal ilmu, tetapi di luar kemungkinan yang jauh lebih hebat dari aku, kamu tetap memilihku. bagaimana bisa aku tidak bangga memilikimu?

kamu terlalu sempurna. atau adakah kata hebat yang memiliki arti lebih dari sempurna? jika ada, aku akan menyematkan itu untukmu.

kamu selalu membuatku percaya. jika cinta yang dilangitkan bersama doa, suatu hari ia akan menemukan keajaibannya. kamu selalu mengingatkan, jika di antara kita tidak perlu menumbuhkan rasa khawatir yang berlebihan. karena seluruhnya telah Tuhan aturkan, dan tugas kita hanyalah berjuang untuk direstukan.

sebelum aku kehabisan kata-kata. aku akan mengakhirinya dengan ini. aku akan mencintaimu dengan tenang, meski menujumu harus sejauh bintang. dan atas apa yang kita namakan masa depan, semoga ketika berjuang kita tak menemukan batas kelelahan.

@tausiyahku_
Kontribusi oleh @yiimaaa

Aku Bersama Doaku, Kau Bersama Doamu, dan Kita Bersama Tuhan.

Aku tidak tahu, kira-kira apa yang membuatku jatuh cinta kepadamu, pun aku juga tidak tahu apa yang membuatmu jatuh cinta kepadaku. aku tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaanku saat ini. satu yang pasti, bersamamu aku benar-benar menemukan sebenar-benarnya aku.

Saat ini, kita tidak berdekatan pun juga tidak berjauhan. kita ada dalam batas yang pas untuk saling mencintai. aku bersama doaku, kau bersama doamu, dan kita bersama Tuhan.

Kesabaran adalah hal terbaik yang bisa kita perjuangkan saat ini. jangan sampai salah satu dari kita kehilangan itu. karena mungkin saja ketika kita kehilangan kesabaran, kita akan benar-benar kehilangan kita.

Tujuan yang mungkin sulit dicapai pasti kita akan sampai, asal kita tetap bersama dan yakin. ingatlah, akan ada hal baru, rencana baru, mimpi-mimpi baru sesampainya kita pada tujuan.

Bersamamu kini aku tahu. setelah cinta tumbuh, ia akan berkembang. dan untuk mengembangkannya tidak harus dengan pertemuan, kata-kata mesra, atau sebagainya; cukup dengan doa. benar, untuk bergerak cinta butuh jarak.

Satu lagi, tersenyumlah untukku ketika kau sedang bercengkrama dengan-Nya. karena kau tahu, aku begitu menyukai senyum indahmu, Shiny.

Lembayung Senja

Ratusan hari lepas, kau datang bagai sebuah hadiah dari Tuhan. tapi bukan untukku saat ini. aku merasa saat ini dititipkan kau oleh Tuhan, entah untuk siapa, tapi aku merasa bahwa memang cepat atau lambat kau akan pergi, bukan untuk meninggalkanku, justru untuk menjagaku. dan pertanyaannya adalah, apakah kau akan kembali lagi kelak?

Memoar

Namaku rindu, tapi kau bisa menyebutku sebagai putih beludru atau jejak – jejak embun di pagarmu. Aku punya banyak nama sepi, tapi yang paling indah kusebut dapur yang tak punya api. Kau pun bisa menyebutku si sultan yang bingung, dan mungkin agak mirip sebuah mata air yang jatuh di matamu. Tapi jangan pernah kau memintaku menulis ayat – ayat suci, sebab aku buka nabi atau pun rasul. Isya, subuh, dzuhur, asar, maghrib, itulah nama – namaku yang lain. Dan aku ingin sekali menjadi nyala di depan kakimu.

-Sulaiman Djaya.