Menjadi Buih

Ini malam kesekian aku dirundung sendu. Entah mengapa. Rasanya tiap memikirkan mu… itu menyakitkan. Gimana ya, kamu.. mulai menjauh ya? Bosan ya denganku? Ah, tak perlu dijawab, aku tak siap mendengar jawaban mu.

Ketika pesan aku cuma kamu read doang, sedangkan kamu asik chat becanda sama (banyak) yang lain disana, aku terus menunggu apa hanya pesanku saja yang tak kau gubris sama sekali? Disaat aku dihujam rindu yang tak terkira, sesaat aku berpikir sepertinya rinduku bertepuk sebelah tangan.. Disaat aku dengan penuh perjuangan ini itu hanya untukmu, kenapa ya respon yang aku dapat dari mu singkat sekali, rasanya seperti ah perasaan ku mulai tak dihargai.. 

Heyy, apa kabar? Kabar mu lah yang selalu aku tunggu setiap waktunya. Disisi lain, aku bertanya tanya, kabar siapa yang kau tunggu hari ini?

Heyy, jangan pergi..

Advertisements

Ephemera

Jatuh. Terbangun. Jatuh. Patah. Jatuh lagi. Bangkit. Patah lagi. Menjadi perca. Lalu remuk. Bangkit. Jatuh lagi.
Proses yang malam ini ingin kuberhentikan dengan titik keberdirianku melawan segala rindu dan rasa takut kehilangan, untuk kembali pada titah-Nya.
Semoga tak ada lagi jatuh tanpa tangan yang siap memberdirikan, mengajak bersisihan menuju cinta-Nya. Aku takut. Takut sekali. Pada-Nya.

Maaf atas segala rasa yang pernah begitu berlebihan, atas bertumpuk-tumpuk rindu yang pernah dikirim angin, atas segala sakit yang sempat kita rasa, atas air mata tak tertahan, atas segala huruf yang pernah terangkai begitu saja, atas jatuh dan bangkit yang berseling membersamaiku, atas amarah dan benci yang aku tak berhak melakukannya.
Semoga Sang Maghfiru memberikan ampunan-Nya padaku. Juga padamu.
Bukankah kita sudah sama-sama percaya bahwa ini semua hanya ephemera?

Karena jatuh cinta dan patah hati hanya sementara.

-Ahimsa Azaleav.

         Ya, malam ini kita kembali tersadar, menyadarkan diri akan posisi kita saat ini. Malam ini kita kembali melawan ego dalam diri, mencoba memilah kembali mana yang benar dan yang salah. Malam ini kita kembali saling mengingatkan akan apa yang tak seharusnya kita lakukan dan apa yang seharusnya kita lakukan.

Perasaan khawatirmu jika kelak kita tak berjodoh, sungguh, sangat aku rasakan pula. dan kita sama sama faham dan takut, jika jalan seperti ini yang terus kita lalui, nanti malah mendatangkan murka Sang Pemilik hati, dan kita takut kelak Ia malah tak ridho karenanya. Maka akhirnya malam ini, kita memutuskan sesuatu yang seharusnya kita putuskan sejak awal.

Gambaran perasaanku tak jauh dari beberapa tulisanku sebelumnya, karena sekarang sepertinya aku mulai kehabisan kata kata.. hanya air mata yang selalu jatuh tak tersadar setiap aku mengingatmu.

Tak mudah menghapus 25,500++ percakapan yang terhitung dalam percakapan facebook kita, belum jika kau mau menghitung percakapan lainnya, ditambah percakapan-percakapan yang kita cakapkan langsung 4 mata, ah, percakapan itu terekam baik dalam memoriku.

Abdirrohman.. harapan dan doa ku satu. Agar semua yang kita ikhlaskan saat ini, tak sepenuhnya kita lepas, agar kita tetap pada tujuan kita, untuk berjuang agar dipertemukan kembali kelak pada masa kita sudah berilmu dan siap untuk mengarungi derasnya ombak bersama.

Selamat tinggal yang sesungguhnya kau dimata ku. tapi maaf, tak mungkin aku mengucapkan selamat tinggal kau dihati ku. karena hati ini selalu punya tempat terindah untuk kau menetap didalamnya, maka jangan biarkan tempat itu kosong. aku janji akan menjagamu dalam hatiku, aku tak ingin menerima siapa-siapa lagi selain dirimu didalam hatiku, maka tolong, jagalah juga separuh hatiku yang aku titipkan bersamamu.

Besar harapku untuk membersamaimu kelak. maka harapanku ini takkan aku biarkan menjadi harap saja. ini butuh perjuangan. dan dengan niat dan tekad yang kuat, aku ingin memperjuangkanmu.

Jangan hilangkan rasa percayamu padaku, tenang, aku penjaga cinta yang baik. dan jangan pula hilangkan rasa percaya kita pada sang Maghfiru akan janjinya untuk mempertemukan kembali dua hati yang saling mencintai karenaNya.

Pulang lah segera diwaktu dimana kau harus pulang kesini.. hati ini akan setia menunggu mu setiap waktu.

Abdirrohman Al-Madani, hanya Allah yang tahu, betapa berharganya dirimu untukku.

Hujan Dan Teduh.

Ada kalanya ketika kita pengen banget nangis, tapi ternyata ga bisa. rasanya kayak ada yg bener bener nahan air mata buat nggak jatuh.

Akhir akhir ini banyak banget kejadian yg bikin hati berantakan dan acak acakan dan apalah itu. semua bermula ketika sifat sok peduli ini membuncah, merasa aku yg paling tahu segalanya tentang dia, tapi ternyata kita lupa bahwa ada satu hal yg seharusnya ga kita lupain, bahwa sebenernya dia punya sejuta topeng. dan yang membuat aku makin benci sama perasaan sendiri adalah, kita nggak tau siapa dia sebenernya.
terkadang datang menjadi A namun tiba tiba berubah menjadi B, entah mungkin esok dia akan menjelma kembali menjadi C, dan seterusnya. Aku makin merasa ragu atas perasaan ini, apa yg membuat dia begitu menarik? mengapa tak dari awal aku menyadari nya? aku terlalu jauh darinya, bahkan untuk sekedar “ada apa?”, aku tak berhak.

Lalu, pernah nggak ngerasain ketika marah, kesel, sedih, tapi kasian, itu nyatu semua? ngebayangin semua itu nyatu aja udah ngeri yah. haha tapi seperti itulah yg sedang berkecamuk dalam dada ini.
ya, its hard to answer the question “What’s wrong?” when nothings right.

Mungkin cinta kita memang seperti hujan dan teduh,
selalu bersama namun takkan pernah bisa bersatu.

Rindu Itu.

Dear kamu; yg pernah datang ketika Ferbruari membiru.

Apa kabar? Masih ingat aku? ini aku yg dulu kau hempas jatuh ketika sudah terbang mencapai angan tentang mu. atau aku butuh mengenalkan diri lagi kalau kamu memang ternyata sudah melupakan ku; aku Nida.

Selamat bertemu lagi, long time no see ya.
Sekarang kita akan dewasa, aku dan kamu. semakin dewasa kita akan semakin jauh ya? kita akan berpisah, lagi.

Oh iya, Apa kabar bidadari pendamping mu itu? dia makin cantik ya. itu lho seorang wanita yang sangat beruntung bisa kau cintai, hehe aku tau betul kok itu bukan aku. sudah berapa ribu rasa syukur yg wanita itu panjatkan atas anugrah telah mendapatkan cinta mu.
Aku yg belum pernah atau mungkin tidak akan pernah mendapat kesempatan mencicipi rasa manis cinta mu itu; selalu bersyukur, wajah ku sempat terlintas di benak mu saja aku sangat bahagia.

Karena;
Aku tahu diri. aku bukan siapa siapa bagi mu, aku mustahil bagi mu. Aku adalah embun dalam lalap api bagimu; yg tak mungkin ada.
Aku tahu diri. Aku mungkin hanya pengganggu hidup mu saja. yg merengek minta diucapkan selamat tidur oleh bidadara sepertimu.
Aku tahu diri. Aku hanyalah pembuat pening kepala mu, oleh segala khayalan gila ku bersama mu.
Aku slalu tahu diri. Aku yg ingin kau slalu ada untuk ku. walau kenyataan nya kau hanya datang ketika lelah mu membuat ku iba.
Aku akan slalu tahu diri kepada mu, kepada bidadari mu. Seorang wanita yg lebih baik dari pengganggu hidup mu seperti ku ini.

Maaf jika telingamu merasa terngiang sesaat ketika namamu dari kejauhan selalu aku sebut dalam cerita ku ke pada Tuhan.
Maaf jika wajah lembut mu itu harus slalu muncul dalam andai andai ku.
Maaf semua perbuatan ku yg mencoba menarik perhatian mu, yg malah menjadi pendorong perhatian mu untuk makin menjauh dari ku.

Terakhir, aku berterimakasih kau mau datang dan mengizinkan ku untuk mencoret secarik namamu dihati ku yang lapuk.
Sampaikan salam ku untuk wanita paling beruntung di jagad raya ini, selain ibu mu sang ratu ke indahan, yaitu ratu dihati mu sang bidadari yg sekarang menjadi segala nya bagi mu.

Tertanda; Orang yg tak pernah tahan untuk berkata “aku-mencintai-mu“.

Labirin Hampa.

“Ketika tak ada lagi harapan dan tak ada lagi yang bisa diperjuangkan, marilah kita pergi ; untuk mengikhlaskan.”

Artikel ini adalah jawaban dari artikel saya sebelumnya di tittle “Aku, Kamu, dan HTS”. Di akhir artikel itu ada sebuah pertanyaan yang dulu slalu membuat saya terngiang. Tapi sekarang saya sudah dapat jawabannya dari kutipan kalimat di atas.

Ya, ini adalah akhir dari perjuangan saya, menunggu dan menunggu. Tapi apadaya, karena semenyenangkan apapun menunggu pasti terselip rasa sakit, apalagi jika yang ditunggu tak pernah sadar.
Namun jawaban ini tak pernah bisa aku terima, kenapa kamu pergi secepat itu? Kenapa kamu hilang secepat itu? Aku pikir kamu tak akan pergi lama, tapi kenyataan nya: kamu pergi selamanya, dan mulai bahagia bersama ORANG LAIN.

Aku tahu ini memang egois, bahwa aku slalu berharap bahwa bahagia mu itu karena ku, tapi ternyata? Aku hanya nol koma sepersekian persen dari kebahagiaan mu. Sisa nya kamu dapatkan dari orang lain, tapi siapa? Ya, dia temanku. Tapi tunggu, teman? Oh tidak. Tak ada teman yg menusuk dari belakang(:

Lalu aku bisa apa? Aku hanya bisa memandangi mu dari kejauhan, dan mecintaimu dalam diam. Dan aku hanya bisa berdoa atas kebahgiaan mu bersamanya walaupun seberapa sesak nya aku.

Semua perasaan ini tak bisa aku deskripsikan lagi, tapi semuanya seperti dalam lirik lagu Christina Perri – Human :

I can fake a smile
I can force a laugh
I can dance and play the part
If that’s what you ask
Give you all I am

I can do it
I can do it
I can do it

But I’m only human
And I bleed when I fall down
I’m only human
And I crash and I break down
Your words in my head, knives in my heart
You build me up and then I fall apart
‘Cause I’m only human.

Akhirnya aku bisa keluar dari labirin ini
Namun, dijalan keluar itu tak ada kamu
Dan aku tak mungkin masuk kembali kedalam labirin itu.
ya, mungkin ini memang jalan yang benar
Aku bisa pergi kembali tanpa kamu
Karena aku tahu, pintu keluar mu sudah dilalui orang lain.

Radya Adi Nugraha, thank you for all the lessons you gave me.
but please let me still love you, it’s up to if tomorrow you can forget about me.