Ephemera

Jatuh. Terbangun. Jatuh. Patah. Jatuh lagi. Bangkit. Patah lagi. Menjadi perca. Lalu remuk. Bangkit. Jatuh lagi.
Proses yang malam ini ingin kuberhentikan dengan titik keberdirianku melawan segala rindu dan rasa takut kehilangan, untuk kembali pada titah-Nya.
Semoga tak ada lagi jatuh tanpa tangan yang siap memberdirikan, mengajak bersisihan menuju cinta-Nya. Aku takut. Takut sekali. Pada-Nya.

Maaf atas segala rasa yang pernah begitu berlebihan, atas bertumpuk-tumpuk rindu yang pernah dikirim angin, atas segala sakit yang sempat kita rasa, atas air mata tak tertahan, atas segala huruf yang pernah terangkai begitu saja, atas jatuh dan bangkit yang berseling membersamaiku, atas amarah dan benci yang aku tak berhak melakukannya.
Semoga Sang Maghfiru memberikan ampunan-Nya padaku. Juga padamu.
Bukankah kita sudah sama-sama percaya bahwa ini semua hanya ephemera?

Karena jatuh cinta dan patah hati hanya sementara.

-Ahimsa Azaleav.

         Ya, malam ini kita kembali tersadar, menyadarkan diri akan posisi kita saat ini. Malam ini kita kembali melawan ego dalam diri, mencoba memilah kembali mana yang benar dan yang salah. Malam ini kita kembali saling mengingatkan akan apa yang tak seharusnya kita lakukan dan apa yang seharusnya kita lakukan.

Perasaan khawatirmu jika kelak kita tak berjodoh, sungguh, sangat aku rasakan pula. dan kita sama sama faham dan takut, jika jalan seperti ini yang terus kita lalui, nanti malah mendatangkan murka Sang Pemilik hati, dan kita takut kelak Ia malah tak ridho karenanya. Maka akhirnya malam ini, kita memutuskan sesuatu yang seharusnya kita putuskan sejak awal.

Gambaran perasaanku tak jauh dari beberapa tulisanku sebelumnya, karena sekarang sepertinya aku mulai kehabisan kata kata.. hanya air mata yang selalu jatuh tak tersadar setiap aku mengingatmu.

Tak mudah menghapus 25,500++ percakapan yang terhitung dalam percakapan facebook kita, belum jika kau mau menghitung percakapan lainnya, ditambah percakapan-percakapan yang kita cakapkan langsung 4 mata, ah, percakapan itu terekam baik dalam memoriku.

Abdirrohman.. harapan dan doa ku satu. Agar semua yang kita ikhlaskan saat ini, tak sepenuhnya kita lepas, agar kita tetap pada tujuan kita, untuk berjuang agar dipertemukan kembali kelak pada masa kita sudah berilmu dan siap untuk mengarungi derasnya ombak bersama.

Selamat tinggal yang sesungguhnya kau dimata ku. tapi maaf, tak mungkin aku mengucapkan selamat tinggal kau dihati ku. karena hati ini selalu punya tempat terindah untuk kau menetap didalamnya, maka jangan biarkan tempat itu kosong. aku janji akan menjagamu dalam hatiku, aku tak ingin menerima siapa-siapa lagi selain dirimu didalam hatiku, maka tolong, jagalah juga separuh hatiku yang aku titipkan bersamamu.

Besar harapku untuk membersamaimu kelak. maka harapanku ini takkan aku biarkan menjadi harap saja. ini butuh perjuangan. dan dengan niat dan tekad yang kuat, aku ingin memperjuangkanmu.

Jangan hilangkan rasa percayamu padaku, tenang, aku penjaga cinta yang baik. dan jangan pula hilangkan rasa percaya kita pada sang Maghfiru akan janjinya untuk mempertemukan kembali dua hati yang saling mencintai karenaNya.

Pulang lah segera diwaktu dimana kau harus pulang kesini.. hati ini akan setia menunggu mu setiap waktu.

Abdirrohman Al-Madani, hanya Allah yang tahu, betapa berharganya dirimu untukku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s