Menjadi Buih

Ini malam kesekian aku dirundung sendu. Entah mengapa. Rasanya tiap memikirkan mu… itu menyakitkan. Gimana ya, kamu.. mulai menjauh ya? Bosan ya denganku? Ah, tak perlu dijawab, aku tak siap mendengar jawaban mu.

Ketika pesan aku cuma kamu read doang, sedangkan kamu asik chat becanda sama (banyak) yang lain disana, aku terus menunggu apa hanya pesanku saja yang tak kau gubris sama sekali? Disaat aku dihujam rindu yang tak terkira, sesaat aku berpikir sepertinya rinduku bertepuk sebelah tangan.. Disaat aku dengan penuh perjuangan ini itu hanya untukmu, kenapa ya respon yang aku dapat dari mu singkat sekali, rasanya seperti ah perasaan ku mulai tak dihargai.. 

Heyy, apa kabar? Kabar mu lah yang selalu aku tunggu setiap waktunya. Disisi lain, aku bertanya tanya, kabar siapa yang kau tunggu hari ini?

Heyy, jangan pergi..

Ruang Rindu

Ada suatu malam ketika kau tak datang, sepertinya kau masih sibuk dengan banyak hal. Ini sudah lewat jam malam, tapi aku masih terjaga. 

Lalu tanpa sengaja, aku menemukan recent call kita di Line, rata rata waktu panggilan nya berdurasi lebih dari 40 menit, bahkan ada yang sampai 2 jam lebih. Dan semuanya terjalin ditengah malam. 

Aku mulai termenung, menatap layar handphone cukup lama, hanya melihat recent call itu. Mencoba menggali setiap kenangan, mengingat hal apa saja kah yang saat itu kita bincangkan. Sungguh, aku benar benar mencoba mengingat nya. Sepertinya itu saat saat menyenangkan.

Mengingat masa SMA kita tinggal beberapa hari lagi, yang juga akan jadi perpisahan pertama kita, ruang lingkup kebersamaan kita akan hilang, satu demi satu. Namun sayangnya, hari hari terakhir kita tak cukup baik. Seperti malam ini.

Lalu perlahan tanpa kusadari, rasa rindu mulai menebal, kembali menumpuk. Jika rindu itu bagai lembaran kertas, percaya tidak? tumpukan nya sekarang hampir menyentuh langit.

Ephemera

Jatuh. Terbangun. Jatuh. Patah. Jatuh lagi. Bangkit. Patah lagi. Menjadi perca. Lalu remuk. Bangkit. Jatuh lagi.
Proses yang malam ini ingin kuberhentikan dengan titik keberdirianku melawan segala rindu dan rasa takut kehilangan, untuk kembali pada titah-Nya.
Semoga tak ada lagi jatuh tanpa tangan yang siap memberdirikan, mengajak bersisihan menuju cinta-Nya. Aku takut. Takut sekali. Pada-Nya.

Maaf atas segala rasa yang pernah begitu berlebihan, atas bertumpuk-tumpuk rindu yang pernah dikirim angin, atas segala sakit yang sempat kita rasa, atas air mata tak tertahan, atas segala huruf yang pernah terangkai begitu saja, atas jatuh dan bangkit yang berseling membersamaiku, atas amarah dan benci yang aku tak berhak melakukannya.
Semoga Sang Maghfiru memberikan ampunan-Nya padaku. Juga padamu.
Bukankah kita sudah sama-sama percaya bahwa ini semua hanya ephemera?

Karena jatuh cinta dan patah hati hanya sementara.

-Ahimsa Azaleav.

         Ya, malam ini kita kembali tersadar, menyadarkan diri akan posisi kita saat ini. Malam ini kita kembali melawan ego dalam diri, mencoba memilah kembali mana yang benar dan yang salah. Malam ini kita kembali saling mengingatkan akan apa yang tak seharusnya kita lakukan dan apa yang seharusnya kita lakukan.

Perasaan khawatirmu jika kelak kita tak berjodoh, sungguh, sangat aku rasakan pula. dan kita sama sama faham dan takut, jika jalan seperti ini yang terus kita lalui, nanti malah mendatangkan murka Sang Pemilik hati, dan kita takut kelak Ia malah tak ridho karenanya. Maka akhirnya malam ini, kita memutuskan sesuatu yang seharusnya kita putuskan sejak awal.

Gambaran perasaanku tak jauh dari beberapa tulisanku sebelumnya, karena sekarang sepertinya aku mulai kehabisan kata kata.. hanya air mata yang selalu jatuh tak tersadar setiap aku mengingatmu.

Tak mudah menghapus 25,500++ percakapan yang terhitung dalam percakapan facebook kita, belum jika kau mau menghitung percakapan lainnya, ditambah percakapan-percakapan yang kita cakapkan langsung 4 mata, ah, percakapan itu terekam baik dalam memoriku.

Abdirrohman.. harapan dan doa ku satu. Agar semua yang kita ikhlaskan saat ini, tak sepenuhnya kita lepas, agar kita tetap pada tujuan kita, untuk berjuang agar dipertemukan kembali kelak pada masa kita sudah berilmu dan siap untuk mengarungi derasnya ombak bersama.

Selamat tinggal yang sesungguhnya kau dimata ku. tapi maaf, tak mungkin aku mengucapkan selamat tinggal kau dihati ku. karena hati ini selalu punya tempat terindah untuk kau menetap didalamnya, maka jangan biarkan tempat itu kosong. aku janji akan menjagamu dalam hatiku, aku tak ingin menerima siapa-siapa lagi selain dirimu didalam hatiku, maka tolong, jagalah juga separuh hatiku yang aku titipkan bersamamu.

Besar harapku untuk membersamaimu kelak. maka harapanku ini takkan aku biarkan menjadi harap saja. ini butuh perjuangan. dan dengan niat dan tekad yang kuat, aku ingin memperjuangkanmu.

Jangan hilangkan rasa percayamu padaku, tenang, aku penjaga cinta yang baik. dan jangan pula hilangkan rasa percaya kita pada sang Maghfiru akan janjinya untuk mempertemukan kembali dua hati yang saling mencintai karenaNya.

Pulang lah segera diwaktu dimana kau harus pulang kesini.. hati ini akan setia menunggu mu setiap waktu.

Abdirrohman Al-Madani, hanya Allah yang tahu, betapa berharganya dirimu untukku.

Jalan Panjang

Genap satu tahun,
impian dan cita-cita itu kita tuliskan bersama
satu demi satu ia mulai terlihat merekah
ia mulai terwujudkan

bersama angan-angan kita yang tak berbatas
bersama tekad dan semangat kita yang terus membara
bersama perjuangan dan usaha kita yang tak kenal kata lelah
bersama jalan terjal yang tak henti menguatkan kita

Yaa Rabbi
izinkanlah kami mewujdkan semua mimpi mimpi kami
demi kemajuan agama Mu
demi dakwah ini

Yaa Muqallibal Quluub..
Ridhoi lah
Ridhoi lah hati-hati kami yang terpaut ini
jagalah hati-hati kami selalu Yaa Rabb
jagalah agar tetap pada naunganMu
pada lindunganMu
didalam lingkaran dakwah Mu selalu

hingga Engkau lah yang kelak memutuskan segalanya
maka satukanlah kami kembali kelak yaa Rabb
satukanlah kami kembali di waktu dan tempat yang Engkau ridhoi
pada ikatan sakral nan suci

hingga saat itu tiba,
izinkan aku yaa Rabb,
izinkan aku
tetap menunggunya disini,
sembari terus memantaskan diriku
agar pantas bersanding dengannya

didalam semua impian kami
satu yang kami cita citakan paling tinggi
yaitu dapat bersama selalu dengan seizin Mu
di dunia
maupun di syurga firdausy Mu kelak

terakhir,
ridhoi jalan kami selalu Yaa Rabb
kami bertekad untuk membersamai dakwah Mu terlebih dahulu
sebelum kami membersamai satu sama lain.

Abdirrohman Al-Madani, will you?

IMG_20160618_100250IMG_20160618_095647

Singkat Penuh Makna.

Maha suci Allah yang tahu isi hati ini,
Aku sangat berterimakasih, aku bersyukur kepadaNya. Ia yang telah mengingatkan ku kembali akan kau.
Kamu yang dahulu aku relakan, aku lepas, aku ikhlaskan, ternyata Allah tak menghilangkan rasa itu begitu saja, aku terharu ternyata Ia masih menyimpan perasaan itu, dan dengan kuasaNya, Ia ingatkan perasaan itu kembali pada langkah hijrah ku yg masih sangat sangat goyah.

Hingga akhirnya aku sampai pada titik ini. Aku malu padaNya. Baru pada titik inilah aku sadar bahwa Ia bukan lah dengan begitu saja mengingatkan ku akan kamu. Aku baru sadar bahwa Allah justru ingin menguji proses hijrah ku dengan adanya kamu.

Sungguh. Allah Maha sebaik baik pembuat rencana.

Namun akulah yang bodoh, aku lah yg sangat bodoh. Aku yang malah menyalah gunakan rasa ini dengan nafsu. Allah mungkin sedih melihatku. Bahkan aku yang tahu ini salah pun, masih sering menolak bahwa ini salah. Hingga akhirnya kita aku, sampai pada titik ini.

Aku malu pada Allah,
Mungkin pada akhirnya Ia lelah melihatku yang tak kunjung sadar, juga Ia yang terlalu sayang padaku, hingga akhirnya kamu lah yg memutuskan mengakhiri lebih dulu.

Maaf ya Allah, maaf ya Dih.
Dan terimakasih pada akhirnya kau yang mengakhirinya.


Aku bersyukur dan juga sedih. Kenapa itu harus kamu yang menjadi penguji diri ini? Kamu terlalu tinggi derajatnya untuk menguji diri yang begitu rendah ini. Namun ternyata memang hanya kau yang dapat membuka mataku.

My Life has been really really changed since I found you.
Kau yang paling tahu bagaimana aku berusaha keluar dari dunia ku yang kelabu,
kau yang membuka mata ku bahwa dunia ini sangatlah berwarna. Jauh berbeda dari apa yg aku lihat dahulu.
Kau juga yg memperlihatkan padaku bahwa dunia ini juga jahat, dunia ini begitu kejam.
Sering kali aku ingin mundur, namun kau meyakinkan kembali, agar aku harus terus berjalan,
kalau perlu, kita lari bukan?

Sungguh perjalanan itu begitu terjal.
Aku terkadang aneh, kenapa aku bisa sampai pada titik ini? Mengapa aku bisa sebegitu kuat nya ya?
Jujur deh, kamu sebenarnya manusia apa malaikat sih?

Doa yangg sempat aku panjatkan adalah semoga ini tetesan air mata yg terakhir karena kesalahan hati.

Abdirrohman Al-Madani, izinkan aku melepasmu, merelakanmu, dan mengikhlaskanmu satu kali ini lagi.

Haha baru sadar, kok aku yg dulu hati nya masih rombeng banget soal cinta, kenapa bisa kepikiran buat melepaskan perasaan itu ya, kalau diinget inget dulu kenapa ngga aku kejar aja ya. Aneh tapi nyata, kayak udah bener bener Allah memulai rencana ini bukan dari tepat satu tahun yg lalu. Tapi dari kesadaran hati ku bertahun tahun lalu untuk mengikhlaskan mu itu.

Rasanya berat, tapi ringan. Gimana itu ya?
Kayak ada yg bantu buat lepas, kayak bener bener emang tinggal dari aku nya aja gitu ya

Kamu berpesan, agar aku tak usah segan bertanya kabar.
Aku jawab, Mungkin itu gunanya doa. Itu gunanya firasat bukan? Aku berdoa semoga dari manapun dan kapanpun itu aku bisa dapat kabar tentang dirimu selalu.


Kamu tahu? dahulu sekali, aku sempat memandang mu sembari berfikir,

“nanti siapa ya yang bakal jadi istri dia? Orang kayak apa ya? Orang sehebat, secantik, sesempurna apa ya yg nanti akan terlihat cocok bersanding sama orang kayak dia?”

Tak pernah terbayang diri ini bisa sebanding dengamu. Tapi mungkin, kalau aku memperbaiki diri lagi dan terus, kelak bisa kali ya sedikit mah terlihat cocok gitu ya?? 🙂

Izinkan aku.
Aku ingin jadi orang yang paling beruntung itu Dih.
Ini seberkas khayalan dan mimpi yang ingin aku ubah menjadi doa dan usaha.

Kau juga sempat memberiku petuah, “Satu syarat jadi istri abdih mah dia yg berani gadaikan kehidupan nya yg fana utk dakwah dan abdih :)”


Aku yang selalu cerewet dalam berpesan kepadamu, agar kau jaga kesehatan, kau yang jarang sakit jangan sampe sakit! Jangan ambekan aja wleee, jangan sensian. Tetap jadi orang tersabar yg pernah saya temui ya, yang tak pernah redup senyum dan tawa nya.

Kau pun berpesan, “Iyaaah ndaaaa nida juga terus kan perjuangaan yaah lanjutkan hidup yg singkat ini dengan penuh maknaaaa. Nida juga yah jgn gampang nangis wkwkwk jgn suka sakit ih hidup ini singkat loh. Hehehe doa abdih itu kau wanita terakhir yg didekati abdih ndaaa :)”


Abdirrohman Al-Madani, tak terhingga ucapan terimakasih dan maaf ku ini untuk mu. Akan apa yang telah engkau bagi dan ajarkan di waktu yg sangat singkat ini.
Aku takkan henti mendoakan mu. Aku tak kan henti memohon untuk keselamatan, kesehatan, dan semangat yg semoga selalu bersamamu kapanpun dan dimanapun itu.

Hanya Allah yg tahu betapa berartinya kamu dih.

Selamat berjuang Abdirrohman,

Selamat berjuang ya mujahid.

Jalan kita, masih sangatlah panjang. 


Dan percakapan kita berakhir disini. Salam mu yang begitu menandakan keikhlasan.

Okelaaah assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 🙂

Wa’alaikumsalam warahmatullahhi wabarakatuh, selamat bertemu lagi kelak Abdirrohman, tunggu aku dan perubahan ku ini ya! Jangan pernah berhenti bersinar, my only one sunshine! 

Dadaahhh 🙂

Iyaaaah ndaaaaaa akan kutunggu segala kesuksesan mu, kau pun jangan pernah berhenti jadi sumber perubahan, shinyy 

Dadaaaah :):):)

Senja dan kau.

Entah mengapa,
Aku selalu jatuh cinta pada setiap potret senja dan laut yg kau tangkap
Terlihat ratusan kali lebih indah menurutku
Potret itu selalu terasa seperti ada hati yg merekah dan senyum yg indah dibaliknya
Yg selalu dapat mebuncahkan rindu kepada senja, deburan ombak, dan kau.

image

Dari Ia yang Penuh Kehangatan

Kupinang engkau dengan Al-Qur’an
Kokoh suci ikatan cinta
Kutambatkan penuh marhamah
Arungi bersama samudra dunia

Jika terhempas di lautan duka
Tegar dan sabarlah tawakal pada-Nya
Jika berlayar di sukacita
Ingatlah tuk selalu syukur padaNya

Hadapi gelombang ujian
Sabarlah tegar tawakal
Arungi samudra kehidupan
Ingatlah syukur pada-Nya

Diantara embun pagi
Dari hangatnya sang mentari,

7 Mei 2016